Siswa ke Sekolah Tanpa Uang Saku, Andalkan Sarapan di Tenda

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Para siswa pengungsi korban bencana Gunung Agung asal Karangasem yang mengungsi dan melanjutkan pendidikan di wilayah Klungkung, mulai kesulitan uang saku untuk sekolah. Masalahnya, selama tiga pekan berada di pengungsian, kondisi keuangan orangtua mereka juga kempis. Karenanya, banyak siswa yang berangkat sekolah tanpa uang saku, cukup andalkan sarapan di tenda pengungsian.

Data yang dihimpun NusaBali, saat ini ada total 3.206 siswa pengungsi asal Karangasem yang buat sementara melanjutkan pendidikan di dekat lokasi pengungsian mereka di Kabupaten Klungkung. Mereka terdiri dari 322 siswa TK/PAUD, 1.706 siswa SD, 492 siswa SMP, dan 492 siswa SMA/SMK.

Sebagian dari mereka orangtuanya selama ini bekerja sebagai buruh serabutan. Pasca mengungsi, para orangtua siswa yang bekerja sebagai buruh ini praktis kehilangan pekerjaan, sehingga tak ada pemasukan. Sedangkan mereka yang bekerja di luar buruh serabutan, masih punya pendapatan, meskipun pas-pasan, karena kerjanya tidak maksimal lantaran sedang mengungsi. 

Untuk menyiasati persoalan keuangan orangtuanya, mau tak mau jatah uang saku anak-anak mereka yang sekolah dipangkas. Siswa SD yang dalam kondisi normal biasa dibekali uang saku Rp 5.000 sehari, kini dipangkas menjadi hanya Rp 3.000 per hari. Sementara bagi pengungsi kelas bawah yang kehilangan pekerjaan, kini bahkan tidak memberi uang saku buat anaknya. Anak-anak mereka hanya mengandalkan sarapat di posko pengungsian, sebelum berangkat sekolah.

Sedangkan siswa SMP yang dalam kondisi normal biasa diberi uang saku Rp 10.000 per hari oleh orangtuanya, kini terpaksa hanya diberi bekal kisaran Rp 3.000 hingga Rp 5.000 sehari sejak berada di pengungsian. Demikian pula untuk siswa SMA/SMK yang semula mendapat uang saku Rp 10.000 hingga Rp 15.000 sehari, kini rata-rata dijatah Rp 10.000 sejak di pengungsian.

Para orangtua siswa pengungsi ini tidak bisa berbuat banyak atas kondisi yang dialaminya. Anak-anak mereka pun bisa memaklumi kondisi tersebut. Hal ini juga diakui Ni Kadek Suti, 32, Komang Leo Widnyana, 8, siswa pengungsi yang kini nebeng belajar di Kelas II SDN 1 Tojan, Klungkung. “Kalau anak saya ke sekolah, saya tidak bisa memberinya uang saku, karena tak ada uang. Saat masih sekolah di Karangasem, anak saya biasanya dibekali Rp 2.000 hingga Rp 3.000 sehari,” cerita Kadek Suti saat ditemuai NusaBali di posko pengungsian Bale Banjar Jelantik Kuribatu, Desa Tojan, Kecamatan Klungkung, Jumat (13/10).

Menurut Kadek Suti, persediaan uangnya sangat tipis setelah suaminya, Komang Muniawan, 35, yang selama ini jadi tulang punggung keluarga dengan mengandalkan pekerjaan sebagai buruh, kini tidak bekerja. Mereka hanya mengandalkan bantuan logistik dari pemerintah dan relawan. “Sebelum berangkat sekolah, anak saya sarapan roti dan susu dulu di posko pengungsian. Setelah pulang sekolah siangnya, barulah anak saya makan nasi,” tutur perempuan asal Banjar Pegubugan, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem ini.

Paparan senada juga disampaikan Wayan Urip, 47, salah seorang penungsi yang anaknya melanjutkan sekilah di Karangasem. Dia tak bisa memberikan uang saku lebih banyak untuk dua anaknya yang kini melanjutkan sekolah di pengungsian, yakni I Wayan Widya Wijaya, 13 (nebeng di Kelas VII SMPN 3 Semarapura) dan Ni Kadek Wiwin, 10 (nebeng di Kelas 4 SDN 1 Tojan). 

Sebelum mengungsi, Wayan Urip bekerja sebagai sopir material bangunan (batu hitam) dengan penghasilan yang lumayan. Kala itu, dia masih bisa memberi bakal Rp 10.000 sehari buat anak sulungnya yang kini duduk di bangku SMP. Namun setelah mengungsi, jatah uang saku buat anak sulungnya dipangkas 50 persen menjadi Rp 5.000 sehari.

Sedangkan untuk anak bungsunya yang masih duduk di bangku SD, kini dijatah uang saku hanya Rp 3.000 sehari dari semula Rp 5.000 per hari. “Selama beberapa Minggu pertama di pengungsian ini, saya masih bisa membekali anak-anak, meski jatahnya menurun. Namu, saya bingung bagaimana nanti kalau berada di pengungsian dalam waktu yang lama, cari uang dari mana,” keluh Wayan Urip yang kemariin didampingi istrinya, Ni Nyoman Menuh, 43, di pengungsian.

Menurut pengungsi asal Banjar Pegubugan, Desa Duda, Kecamatan Selat ini, jika harus mengungsi dalam jangka panjang, dirinya akan menggadaikan barang-barang berharga miliknya. “Motor atau BPKB-nya saya gadaikan dulu,” jelas Wayan Urip sembari berterima kasih kepada pemerintah dan warga pengungsian, karena sudah bersedia membantu logistik dan tempat tinggal.

Sementara itu, SMAN 2 Semarapura, sekolah favorit di Klungkung yang menerapkan sistem full day school, sempat menampung 113 siswa pegungsi asal Karangasem. Namun, sebagian besar siswa pengungsi sudah pulang ke desa asalnya, sehingga kini tinggal 12 orang saja yang masih bertahan nebeng belajar di SMAN 2 Semarapura. 

Namanya juga berada di pengungsian, 12 siswa asal Karangasem ini pun mengalami krisis uang saku. “Sebelumnya, bekal sekolah bisa mencapai Rp 15.000 sehari. Sedangkan sekarang, rata-rata hanya dapat jatah Rp 5.000 sehari. Saya sudah memahami kondisi orangtua, karena berada di pengungsian,” tutur Ida Bagus Surya Bhuwana, siswa pengungsi dari Kelas X IPA SMAN 2 Amlapura. 

Dikonfirmasi NusaBali terpisah di Semarapura, Jumat kemarin, Kepala Dinas Pendidikan Klungkung, Dewa Gde Darmawan, mengatakan pihaknya tidak sampai menyentuh urusan uang saku siswa pengungsi. Namun, untuk standar minimal pendidikan, seperti pakaian dan alat tulis, itu dibantu. “Begitu pula untuk logistik, sudah diatur di masing-masing posko pengungsian. Kalau uang saku siswa, itu sudah persoalan personal,” tandas Dewa Darmawan. 


NusaBali

Related

Warta Semarapura 5184748439448270248

Post a Comment

item