HomeGlobalUnik Angka Kelahiran Bayi di Jepang Menurun, PM Abe Tak Tinggal Diam


Ilustrasi bayi

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Sebuah survei mengungkap, pada tahun 2017 sekitar 941 ribu bayi lahir di Jepang. Angka ini merupakan jumlah kelahiran paling rendah sejak survei yang sama dilakukan pada tahun 1899.
Dikutip dari laman Mainichi.jp, Minggu (24/12/2017), angka tersebut dihitung lebih rendah 36 ribu bayi dibanding tahun sebelumnya.
Lewat survei ini, Jepang dalam dua tahun belakang mengalami penurunan kelahiran bayi -- di bawah satu juta jiwa.
Untuk angka kelahiran bayi paling tinggi sendiri terjadi pada tahun 1949. Kala itu jumlah bayi yang lahir dalam waktu satu tahun mencapai 2,7 jiwa.
Ternyata, tren penurunan jumlah populasi atau angka kelahiran terus berlanjut dari tahun sebelumnya. Untuk angka kematian pada tahun 2017 sendiri lebih tinggi dari angka kelahiran yaitu sebanyak 1,34 juta atau lebih banyak 36 ribu jiwa dibanding angka kelahiran.
Tak hanya survei angka kelahiran dan kematian, survei itu juga menghitung angka pernikahan yang terjadi di tahun 2017. Ternyata angkanya begitu jauh.
Tahun ini hanya ada sekitar 14 ribu pernikahan, merosot jauh dibanding 2016 yang bisa mencapai angka 607 pernikahan.
Sementara itu, laporan dan Kementerian Kesehatan, Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Jepang mengatakan, rata-rata seorang bayi lahir setiap 34 detik sekali.
Sedangkan yang meninggal setiap 23 detik sekali dan pasangan yang menikah sebanyak 52 detik sekali.
Menanggapi hal itu, Pedana Menteri Jepang Shinzo Abe menyampaikan janjinya untuk menuntaskan kasus semacam ini. Pasalnya, kasus ini tentu dapat menjadi ancaman bagi Negeri Matahari Terbit tersebut.
Pemerintah pun telah membuat sebuah program pada 2025 nanti jumlah penduduk Jepang akan meningkat dengan kelahiran angka bayi.

Alasan Pemuda Jepang 'Ogah' Berhubungan Seksual

Sebuah survei pemerintah Jepang yang dilakukan kepada generasi milenial menunjukkan hasil bahwa 42 persen pria dan 44,2 persen wanita lajang yang berusia antara 18 hingga 34 tahun belum pernah berhubungan seks.
Sementara itu 64 persen di kelompok umur yang sama, sedang tidak menjalin sebuah hubungan spesial.
Dimuat dari Asia One, ada beberapa penyebab yang membuat masyarakat Jepang memilih tak melakukan hubungan seksual.
Salah seorang pria Jepang, Ano Matsui, memberikan alasan mengapa sebuah hubungan spesial bukan menjadi salah satu tujuannya saat ini. Pria berusia 26 tahun itu, pernah ditolak oleh seorang wanita.
Ia mengatakan, laki-laki sepertinya menganggap perempuan sebagai sosok yang 'menakutkan'. Ia juga lebih memilih menghabiskan waktunya untuk menjalankan hobinya seperti menonton anime.
"Aku membenci diriku, tapi aku tak bisa melakukan apa pun untuk itu," ujar Matsui.
Sementara itu seorang perempuan berusia 24 tahun, Anna, mengaku senang dengan status lajangnya sekarang. Ia meyakini bahwa memiliki kekasih justru akan membatasi kebebasannya.
"Ketika aku kuliah, aku mendapatkan kebebasan dari orangtuaku. Akhirnya aku dapat begadang dan minum-minum dengan teman-teman," ujar Anna.
"Seorang kekasih hanya akan membatasi kebebasanku. Aku tak menginginkan itu," kata Anna yang menambahkan bahwa dirinya lebih memilih tidur dan makan di banding beruhubungan seks.
Seorang seniman berusia 45 tahun, Rokudenashiko, mengatakan bahwa baginya seks dalam sebuah hubungan merupakan sebuah hal yang penting. Namun ia mengaku, laki-laki menganggap terlalu banyak usaha yang harus dikeluarkan untuk berhubungan badam.
Karena itu, ia memilih pelarian dengan menonton pornografi.
Meski Jepang dikenal akan industri seks komersialnya, namun budaya tradisional Jepang menganggapnya sebagai hal yang tabu.
"Banyak dari kita tak bisa mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Itu lah budaya kita, menyembunyikan perasaan yang sebenarnya," ujar seorang perempuan dalam saluran situs berbagi video 'Find Your Love in Japan'.
Sementara itu seorang profesor diplomasi publik dari Kyoto University of Foreign Studies, Nancy Snow, mengatakan kepada CNN bahwa perubahan norma sosial dan ekonomi berkontribusi pada menurunnya hubungan antara pria dengan wanita.
"Beberapa identitas personal pria terikat dengan gaji, dan mereka merasa terancam dengan wanita yang berkuasa atas dirinya sendiri," ujar Snow.
Snow menjelaskan bahwa berkurangnya pendapatan membuat pria di Jepang merasa kurang percaya diri dalam menarik perhatian wanita, di mana kaum hawa di negara tersebut banyak yang telah sukses dan memperoleh pendapatan sendiri serta memprioritaskan dirinya.
Terdapat juga laporan dari Business Insider yang mengungkap bahwa pernikahan di Jepang 'mandek' karena panjangnya jam kerja. Menurut laporan tersebut, orang Jepang bekerja 10 hingga 12 jam sehari. Berbeda dengan negara berkembang lain di mana penduduknya rata-rata bekerja delapan jam per hari.

(Liputan6)

Related

Dunia 5380472593382843058

Post a Comment

item