Hotel Ini Dianggap Rasis karena Tolak Tamu Kulit Putih, Balas Dendam?

Kegiatan yoga di pantai Kostarika (DailyMail/Aubrey Lee/AFP)

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali   Sebuah destinasi penginapan di salah satu pesisir negara Kosta Rika menuai kritikan luas karena menetapkan larangan berkunjung bagi tamu berkulit putih. Kebijakan itu bahkan disebut sebagai tindakan rasis yang memuakkan.
Namun, pihak pengelola tempat tetirah bernama The Women of Colour Healing Retreat menanggapi tudingan rasis itu dengan sebuah sindiran yang menyebut masyarakat kulit putih sebaiknya tidak memiliki paspor.
"Mereka (orang kulit putih) menilai banyak hal secara sepihak, dan lupa bahwa mereka juga kerap melakukan tindakan rasis pada masyarakat kulit berwarna. Mereka merusak di banyak tempat, dan sebaiknya tidak perlu diberikan paspor agar tidak bisa pergi ke mana pun," ujar sang pendiri, Satya X, sebagaimana dilansir dari laman News.com.au pada Kamis (15/2/1018).
Didirikan di kota Puerto Viejo sejak 2014, tempat tetirah ini menawarkan 10 hari program yoga dan meditasi bagi wanita dengan kulit berwarna. Program tersebut bertujuan untuk menghilangkan trauma psikologi yang disebabkan oleh pengalaman rasisme.
Meski menolak tamu kulit putih, namun tempat peristirahatan ini justru terbuka menerima tamu-tamu dari berbagai warna kulit, termasuk Asia.
Menurutnya, masyarakat kulit putih masih terus mendapatkan keuntungan di banyak hal, sehingga memicu tindak rasis pada masyarakat kulit berwarna.
Hal itu dicontohkan dalam hal imigrasi, di mana masyarakat kulit putih hampir tidak pernah mengalami pemeriksaan secara berlebihan, dibandingkan mereka dengan kulit berwarna.
"Bahkan sekalipun berpakaian sangat sederhana, asal mereka berkulit putih  bisa memasuki banyak tempat tanpa adanya kecurigaan, sedangkan tidak bagi kami," protes Satya.
"Mungkin hanya Beyonce yang bisa berpergian kemanapun dengan tenang," lanjutnya dengan canda.
 Beberapa pihak menyebut tempat tetirah yang didirikan oleh Satya itu tidak ubahnya bentuk rasisme yang dilakukan oleh kelompok supremasi kulit putih dan neo-Nazi. Satya dituding berupaya membalikan tindak rasisme yang pernah ada dalam penjara.
"Saya membangun tempat ini dengan cinta, bukan kebencian," tegas Satya.
Satya membangun The Women of Colour Healing Retreat sebagai sebuah destiansi berlibu yang bermanfaat untuk tubuh, jiwa, dan pikiran. Penegasan kata 'colour' dimaksudkan sebagai keterbukaan terhadap seluruh warna kulit.
Jikapun kemudian dianggap bertindak rasis, menurut Satya, hal itu tidak lebih sebagai bentuk kemarahan terhadap oknum-oknum kulit putih yang tidak menghargai keberagaman.
"Kami terbuka untuk semua warna kulit, termasuk kulit putih, namun dengan syarat untuk saling menghargai satu sama lain, apapun kondisi fisik dan latar belakangnya," jelas Satya.
The Women of Colour Healing Retreat menawarkan pengalaman menginap secara dengan konsep 'back to nature', di mana dimaksudkan untuk membuat para tamu merasa relaks dan berpikiran positif.
Selain program yoga dan meditasi, Satya juga menawarkan kepada para tamunya layanan makanan organik, dan hiburan berbasis komunal.










sumber : liputan6.com

Related

Info Unik 7563958304239677017

Post a Comment

item