Aksi Ambil Untung Tekan Harga Minyak Dunia

Aksi Ambil Untung Tekan Harga Minyak Dunia

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Harga minyak mentah dunia merosot pada perdagangan Kamis (22/3), waktu Amerika Serikat (AS). Penurunan tersebut dipicu oleh aksi ambil untung investor pasca reli kenaikan harga minyak pekan ini, serta pelemahan pasar saham AS.

Namun demikian, penurunan harga lebih dalam tertahan oleh upaya pemangkasan pasokan yang dilakukan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya.

Dilansir dari Reuters, Jumat (23/3), harga minyak mentah berjangka Brent tergelincir US$0,56 atau 0,8 persen menjadi US$69,91 per barel. Selama sesi perdagangan harga Brent sempat menyentuh level tertinggi US$69,70 per barel, mendekati level tertinggi sejak awal Februari 2018.
Penurunan lebih dalam terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,8 atau 1,3 persen menjadi US$64,30. WTI bergerak di rentang US$64,23 hingga US$65,74 per barel selama sesi perdagangan berlangsung.

Harga minyak cenderung menanjak selama dua minggu terakhir. Hal itu didorong oleh pelemahan dolar AS dan tensi antara Iran dan Arab Saudi yang menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan Timur Tengah yang telah lebih dulu dibatasi oleh kesepakatan pemangkasan produksi OPEC dan sekutunya.

Harga minyak dunia juga sempat mencatatkan kenaikan harian tertinggi pasca mendapat kejutan dari penurunan persediaan minyak mentah AS.

Sementara itu, pelemahan pasar modal AS menyeret harga minyak. Kemerin, gejolak di pasar modal terjadi akibat Presiden AS Donald Trump yang menandatangani memo kepresidenan terkait pengenaan tarif pada sekitar US$60 miliar barang dari China.

"Ketakutan pada serangan balik perdagangan dari China adalah salah satu faktor pelemahan harga minyak hari ini karena hal itu mungkin berdampak pada percepatan laju permintaan," ujar analis pasar energi dan broker komoditas berjangka CHS Hedging Anthony Hendrick di Inver Grove Heights, Minnesota, AS.

Pasar turunan minyak menunjukkan sebagian besar aktivitas sepanjang pekan lalu terpusat pada opsi beli (call options) yang memungkinkan pemegangnya untuk membeli minyak dengan harga tertentu pada waktu tertentu.

Opsi beli untuk minyak ada di level US$80 per barel pada akhir April telah berpindah tangan lebih sering pada pekan lalu dibandingkan opsi lain pada level harga yang berbeda.
Pada Rabu (21/3), Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan persediaan minyak mentah AS merosot 2,6 juta barel sepanjang pekan lalu, di luar ekspektasi para analis yang memperkirakan kenaikan sebesar 2,6 juta barel. Impor minyak mentah yang lebih rendah dan meningkatnya operasional kilang mengempiskan stok minyak mentah Negeri Paman Sam.

Kendati demikian, keyakinan pelaku pasar pada harga minyak dibatasi oleh peningkatan produksi minyak mentah AS yang naik mencapai 10,4 juta barel per hari (bph) pekan lalu. Kondisi itu membuat AS mampu menyalip produksi minyak mentah Arab Saudi, dan mendekati level produksi Rusia yang mencapai 11 juta bph.

Produksi minyak AS sebagian telah dilawan oleh kesepakatan pemangkasan produksi oleh OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia. Kesepakatan pemangkasan sebesar 1,8 juta bph tersebut telah berjalan sejak awal 2017 dan bakal berakhir pada akhir 2018.

Lebih lanjut, diskon harga WTI terhadap Brent melebar hingga US$4,65 per barel pada Kamis lalu, terbesar sejak akhir Januari 2018.












sumber : CNNIndonsia.com

Related

Berita Ekonomi 138580881994901776

Post a Comment

item