Sambut Pangeran, Trump Puji Penjualan Alutsista ke Saudi

Sambut Pangeran, Trump Puji Penjualan Alutsista ke Saudi

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali   Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sambutan hangat untuk Pangeran Mohammed bin Salman, memuji penjualan alat utama sistem pertahanan ke Arab Saudi yang dinilai mendorong lapangan pekerjaan di AS, meski Riyadh terus dikritik atas keterlibatan di perang saudara Yaman. 

Di Oval Office, Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi saling memuji hubungan baik antara AS dan Saudi yang sempat merenggang di masa pemerintahan Barack Obama karena berbeda pandangan soal Iran, musuh bebuyutan kerajaan di Timur Tengah itu. 

Berbeda dengan pendahulunya, Trump mengambil sikap keras pada Iran seperti Mohammed yang menganggap pemimpin tertinggi negara tersebut sama dengan bos Nazi, Adolf Hitler.


Digelar pada Selasa (20/3), pembicaraan keduanya sekaligus menandai kunjungan pertama Pangeran ke Amerika Serikat setelah dia dinyatakan bakal jadi penerus Raja Salman untuk memimpin Saudi.
Karpet merah Trump menunjukkan dukungan kuat pemerintahan Trump untuk Mohammed, Putra Mahkota yang telah melakukan pembersihan antikorupsi sembari mengonsolidasi kekuatan dan menerapkan kebijakan luar negeri agresif hingga memicu kekhawatiran negara Barat. 

Di saat yang sama, kerajaan itu dihadapkan pada iklim penuh kehati-hatian terkait kebebasan sosial, seiring dengan naik daunnya pangeran berusia 32 tahun di negara yang telah lama dikepalai oleh raja lanjut usia.

Trump dan Pangeran Mohammed berdiskisi soal kesepakatan investasi Saudi senilai $200 miliar di Amerika Serikat yang disepakati tahun lalu, termasuk pembelian alutsista dalam jumlah besar. Trump mengatakan penjualan militer ini berkontribusi pada terciptanya 40 ribu lapangan pekerjaan di AS.

Trump menunjukkan grafis untuk menunjukkan kedalaman pembelian alutsista Saudi, mulai dari pertahanan peluru kendali hingga pesawat dan kendaraan darat tempur.
"Arab Saudi adalah negara yang sangat kaya, dan mereka akan memberikan Amerika Serikat sebagian dari kekayaannya, semoga, dalam bentuk pekerjaan, dalam bentuk pembelian alat militer terbaik di dunia," ujar Trump sebagaimana dikutip Reuters.

Pangeran Mahkota yang merangkap sebagai menteri pertahanan disorot dalam kunjungannya ke AS. Dia akan mampir di New York, Boston, Seattle, Los Angeles, San Francisco dan Houston untuk mengembangkan investasi.

Sementara mereka berdiskusi, senator AS memperdebatkan resolusi untuk mengakhiri dukungan AS pada operasi Arab Saudi di perang saudara Yaman yang telah menewaskan sekitar 10 ribu orang. Sejumlah anggota Kongres mengkritisi peran Saudi, terutama dalam hal situasi kemanusiaan dan jatuhnya korban sipil. Senat menolak resolusi tersebut.

Koalisi pimpinan Saudi, yang didukung intelijen dan logistik Washington, berperang untuk melawan pengaruh Iran, sekutu kelompok bersenjata Houthi. Di saat yang sama, kelompok itu menampik mendapat bantuan dari Teheran dan mengaku memerangi politikus korup dan kekuatan negara Teluk yang dipengaruhi Barat.
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan dua pemimpin itu berbicara soal keadaan kemanusiaan di Yaman dan mengungkapkan bahwa korban sipil "tidak jatuh secara besar-besaran," karena Washington bekerja sama dengan Saudi untuk meminimalisirnya.

Mereka juga berdiskusi soal kerja sama nuklir. Riyadh tengah mengajukan rencana untuk mengembangkan kemampuan energi nuklir sipil dalam rangka mengurangi ketergantungan pada minyak.

Senator Partai Republik Bob Corker, ketua Komisi Luar Negeri, mengatakan para senator mencecar Sang Pangeran saat bertemu pada Selasa.



















sumber : CNNIndonesia.com

Related

Dunia 5805983591264150255

Post a Comment

item