Didiskriminasi, Motif Pelaku Penembakan di Markas YouTube

Didiskriminasi, Motif Pelaku Penembakan di Markas YouTube

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali  Polisi berhasil mengidentifikasi wanita yang menyerang dan menembaki kantor YouTube di San Bruno, California Utara, Amerika Serikat merupakan seorang penulis blog vegetarian. Diduga motivasi wanitaitu menyerang markas YouTube karena marah dan menuduh layanan berbagi video itu telah mendiskriminasi dirinya.

Polisi mengatakan, wanita tersebut bernama Nasim Najafi Aghdam, berusia 39 tahun dari San Diego. Penyerangan Aghdam ini melukai satu pria dan dua wanita. Setelah itu, Aghdam bunuh diri.

Dikutip Reuters, Rabu (4/4), media Kalifornia melaporkan bahwa keluarga Aghdam telah memperingatkan pihak berwenang bahwa ia mungkin menargetkan YouTube sebelum penembakan itu terjadi. Ayahnya, Ismail Aghdam, mengatakan kepada "The Mercury News", dia telah memberi tahu polisi bahwa anaknya mungkin akan pergi ke markas besar YouTube karena membenci perusahaan tersebut.
Adapun polisi juga mengungkapkan, Aghdam mengelola sebuah laman web 'NasimeSabz.com'. Nama blognya diambil dari bahasa Persia yang jika diterjemahkan berarti 'Angin Hijau'. Sebagai penulis blog Aghdam menulis berbagai hal dari tentang budaya Persia, veganisme sampai pada menjelek-jelekan perusahaan-perusahaan dan pemerintah.

Dalam akun Instagramnya, Aghdam mengatakan dalam bahasa Persia, dia dilahirkan di Kota Urmiah, Iran tetapi dia tidak berencana untuk kembali ke Iran.

Adapun dalam kasus penyerangan YouTube, Agdham ditengarai sakit hati karena YouTube melakukan penyensoran terhadap video-videonya.
Keluhan terhadap dugaan penyensoran di YouTube bukan hal yang baru. Layanan video tersebut telah lama menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan misinya untuk mendorong kebebasan berbicara dengan kebutuhan untuk mempromosikan lingkungan yang pantas dan sesuai hukum bagi pengguna.

Dalam beberapa kasus yang melibatkan video dengan konten sensitif, YouTube telah memungkinkan video untuk tetap dalam jaringan, tetapi mengurangi kemampuan tayang untuk berbagi dalam pendapatan iklan.

Sementara kejadian ini terjadi di tengah keputusan Amerika Serikat tentang pembatasan kepemilikan senjata, setelah pembunuhan 17 orang dalam penembakan massal di sebuah sekolah menengah di Florida pada Februari lalu. Pihak berwenang di sana gagal untuk bertindak atas dua peringatan dari penyerang sebelum penembakan, yang mendorong kemarahan publik. 

Related

Dunia 4723004929808904022

Post a Comment

item