Perang Dagang China-AS Memanas, IHSG Diramal Kian Tertekan

Perang Dagang China-AS Memanas, IHSG Diramal Kian Tertekan

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali   Perang dagang China dan Amerika Serikat (AS) yang kian memanas diperkirakan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan hari ini, Kamis (5/4).

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menyatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum memiliki peluang untuk bangkit (rebound). Pemberitaan di media massa dan informasi yang tersebar melalui whatsapp grup terkait rencana China yang akan mengumumkan beberapa tarif impor terhadap beberapa barang AS berdampak negatif bagi indeks.

"Pelemahan yang terjadi lebih disebabkan karena adanya faktor psikologis pelaku pasar dengan kecenderungan panik terlalu berlebihan dalam menanggapi sentimen yang ada," papar Reza dalam risetnya.


Tak heran, aliran dana asing yang keluar dari pasar modal (capital outflow) masih terus terjadi di pasar reguler hingga perdagangan kemarin, Kamis (4/4) sebesar Rp109,42 miliar.

"Diharapkan pelemahan dapat lebih terbatas dan pelaku pasar diharapkan tidak terlalu panik dalam menanggapi sentimen yang ada," ungkap Reza.
Reza tak menampik masih terbuka kemungkinan pelaku pasar untuk melakukan aksi jual. Ia memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support 6.118-6.124 dan resistance 6.184-6.198.

Di sisi lain, Analis KGI Sekuritas Indonesja Yuganur Wijanarko menilai perilaku pelaku pasar yang terus menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebabkan IHSG kembali berada dalam tren penurunan.

"Namun pelaku pasar bisa mengunakan kondisi tersebut sebagai kesempatan trading jangka pendek untuk beli dan menjual pada kenaikan berikutnya," kata Yuganur melalui risetnya.
Yuganur menjabarkan beberapa saham yang bisa dicermati oleh pelaku pasar, antara lain PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Pada perdagangan kemarin IHSG jatuh 1,15 persen ke level 6.157. Tak heran, seluruh indeks sektoral berakhir di zona merah, khususnya pertambangan yang turun sebesar 2,14 persen.

Beruntung, meski sentimen negatif datang salah satunya dari AS, tetapi mayoritas indeks di bursa saham Wall Street bergerak positif. Tercatat, Dow Jones ditutup naik 0,96 persen, S&P500 naik 1,16 persen, dan Nasdaq Composite naik 1,45 persen. 



















sumber : CNNIndoneseia.com

Related

Berita Ekonomi 5070970763892611965

Post a Comment

item