Sri Mulyani Waspadai Pelemahan Ekonomi Global

Sri Mulyani Waspadai Pelemahan Ekonomi Global

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali   Menteri Keuangan Sri Mulyani mewaspadai dampak pelemahan ekonomi global terhadap ekspor Indonesia. Ekonomi global sebelumnya diproyeksi tumbuh 3,9 persen, tetapi perubahan dinamika global dikhawatirkan bakal mengoreksi proyeksi tersebut. 

Perubahan dinamika global, menurut Sri Mulyani, terjadi seiring berbagai retorika yang terjadi di dunia. Salah satunya, kebijakan Amerika Serikat terkait kebijakan tarif. 

"Kalau semua melakukannya dalam bentuk inward looking dan konfrontasional pasti hasilnya jelek. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang tadinya (diperkirakan) 3,9 persen tahun ini secara global mungkin akan menghadapi risiko sampai dengan semester 2," ujar Sri Mulyani di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (26/7).


Saat menghadiri pertemuan pertemuan tingkat Menteri dan Gubernur Bank Sentral G20 di Argentina selama 21-22 Juli 2018 lalu, Sri Mulyani melihat perubahan cara negara-negara besar dalam mengatasi perbedaan yang terjadi. Dalam hal ini, masing-masing negara mengusung retorika sendiri sehingga tidak tercapai kesepakatan untuk menyelesaikan masalah. 
"Keinginan G20 menjadi forum atau tempat untuk koordinasi menjadi tidak tercapai atau paling tidak sangat lemah dan itu mempengaruhi confidence terhadap mekanisme kerja sama antar negara," ujarnya. 

Perubahan dinamika global juga dipengaruhi oleh kebijakan China baik dari sisi perdagangan dan nilai tukar. Mata uang Yuan yang sebelumnya dijaga stabilitasnya dan menjadi jangkar di saat krisis perekonomian global, saat ini sengaja dilemahkan demi menjaga daya saing ekspor China menyusul pengenaan tarif impor dari AS.

"Kalau sekarang RRT (China) berubah posisi maka ini akan menimbulkan suatu dinamika yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pengaruhnya tidak hanya terhadap perdagangan tetapi juga kepada nilai tukar dan juga sentimen terhadap aliran modal," terangnya. 
Untuk itu, menurut dia, Indonesia harus mempererat pondasi perekonomian, baik dari konsumsi, belanja pemerintah, dan investasi. 

Selain itu, pemerintah bersama dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mempererat koordinasi demi menghadapi tekanan global dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. 

"Sentimen masih bisa diperbaiki meskipun di tengah situasi kecenderungan tingkat suku bunga naik dan pergerakan nilai tukar yang semakin dinamis," tambah dia. 






























sumber : CNNIndonesia.com

Related

Berita Ekonomi 7479654874018553436

Post a Comment

item