Kanker Paru-Paru, Kanker Pembunuh Nomor Satu di Indonesia

Kanker Paru-Paru, Kanker Pembunuh Nomor Satu di Indonesia

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali  Serangan kanker paru-paru semakin menjadi-jadi. Kanker pada organ pernapasan ini menjadi kanker pembunuh nomor satu di dunia dan Indonesia. 

Data internasional dari Globocan 2018 yang baru saja dirilis menyatakan kanker paru adalah kanker yang paling banyak ditemukan pada pria dan wanita di seluruh dunia dibanding jenis kanker lainnya. 

Total, kanker paru berjumlah 11,6 persen dari semua kasus kanker di dunia. Disusul kanker payudara, usus besar, prostat, dan perut.
Kanker paru juga menjadi penyebab utama kematian akibat kanker yakni sebesar 18,4 persen dari total kematian karena kanker. Diprediksi, terdapat 2,1 juta kasus kanker paru baru dan 1,8 juta kematian karena kanker paru pada 2018. Dengan kata lain satu dari lima kematian pada kanker terjadi akibat kanker paru.

Di Indonesia, angka itu tak jauh berbeda. Data dari Indonesian Cancer Information & Support Center (CISC) menunjukkan kanker paru merupakan kanker pembunuh nomor satu dengan total 14 persen dari kematian karena kanker. Angka kematian karena kanker paru di Indonesia bahkan mencapai 88 persen.
"Data menunjukkan bahwa kanker paru adalah kanker pembunuh nomor satu di Indonesia, dengan jenis terbanyak adenokarsinoma," kata dokter ahli patologi anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Evlina Suzanna, dikutip dari rilis yang diterima CNNIndonesia.com dari CISC, Rabu (28/11).

Kanker paru masuk dalam golongan kanker paling mematikan lantaran sebagian besar terdiagnosis pada stadium lanjut. Angka harapan hidup pada penderita kanker paru lebih rendah dibanding kanker lain yakni hanya 12 persen. 

Oleh karena itu deteksi dan diagnosis dini penting bagi penderita kanker paru. Kanker paru memiliki jenis mutasi yang berbeda-beda. Setiap jenis memerlukan penanganan yang berbeda pula. 

"Deteksi dan penegakkan diagnosis sejak dini menjadi sangat penting bagi orang-orang dengan risiko tinggi
kanker paru agar bisa mendapatkan pengobatan yang tepat dan bermutu," kata Ketua CISC Aryanthi Baramuli Putri. 

Kanker paru dapat dideteksi dini dengan memahami gejala yang timbul. Namun, umumnya pada tahap awal kanker paru tidak menyebabkan gejala. Gejala baru muncul saat kanker sudah memasuki tahap tertentu.

Gejala itu meliputi batuk yang berkelanjutan dan semakin parah bahkan berdarah, sesak napas, nyeri di dada, hingga kelelahan tanpa sebab. Muncul pula pembengkakan pada muka atau leher, sakit kepala, dan sakit pada tulang. 
Gejala lain yang juga muncul adalah berat badan menurun, kehilangan nafsu makan, suara serak, sulit menelan, dan perubahan bentuk ujung jari yang menjadi cembung.

Risiko terkena kanker paru lebih tinggi pada orang yang memiliki faktor risiko. Faktor risiko itu diantaranya faktor usia yakni di atas 50 tahun, genetik atau memiliki riwayat kanker paru di keluarga, terpapar karsinogen, dan gaya hidup tidak sehat seperti merokok. Sekitar 85-95 persen penyebab kanker paru berhubungan dengan kebiasaan merokok.

























sumber : lifestyle.com

Related

Gaya Hidup 1629896415760990691

Post a Comment

item