Metromini dan Jalan Panjang Bus Sedang di Ibu Kota

Metromini dan Jalan Panjang Bus Sedang di Ibu Kota

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali  Metromini, bus berukuran sedang sempat jadi raja jalanan di ibu kota. Pada masanya, Metromini adalah primadona angkutan orang dan jadi salah satu ikon Jakarta.

Namun saat ini keberadaanya terancam. 'Terlindas' roda persaingan angkutan, Metromini kewalahan bersaing dengan Transjakarta dan angkutan online.

Keberadaanya bahkan terancam tinggal kenangan seiring dengan terbitnya Perda nomor 5 tahun 2014 yang mengharuskan armada angkutan umum berusia lebih dari 10 tahun tak boleh lagi digunakan.


Bus angkutan sedang punya sejarah panjang di Jakarta. Informasi awal masuknya bus sedang ke Indonesia, khususnya Jakarta memang agak simpang siur.

Ada yang menyatakan bus-bus itu mulanya untuk keperluan pengangkutan atlet dan rombongannya pada Asian Games 1962 dan Games of New Emerging Forces (GANEFO) setahun setelahnya. 
Sumber lainnya menyebut bus-bus itu masuk menjelang 1970-an untuk menggantikan trem dan bus-bus Eropa dan Amerika Serikat yang sudah uzur. Hanya saja jumlah pastinya sukar ditelusuri. Ada yang menyebut ratusan hingga ribuan.
Metromini dan Jalan Panjang Bus Sedang di Ibu Kota (opening)

Untuk keperluan Asian Games 1962 dan GANEFO, Presiden Soekarno saat itu disebut memerintahkan supaya mencari bus-bus baru. Sebab moda transportasi di Jakarta waktu itu dianggap sudah terlampau tua. Mengandalkan trem sulit karena tidak melewati Senayan serta bandar udara yang saat itu masih berada di Kemayoran untuk mobilitas para kontingen negara peserta.

Jumlah bus juga tidak terlalu banyak, begitu pula oplet. Jika harus mengimpor kendaraan minibus dalam jumlah banyak anggaran negara bisa jebol karena pembangunan kompleks Gelanggang Olahraga Senayan dan penyelenggaraan dua kegiatan itu juga menyedot banyak dana.
Setelah menimbang-nimbang, pemerintah akhirnya memutuskan mengimpor bus berukuran sedang. Pilihan jatuh kepada merek Robur buatan Jerman Timur dan Ikarus dari Hungaria. Ketika itu kedua negara masih dikuasai oleh Uni Soviet. Agak janggal memang mengapa memilih mendatangkan bus dari negara-negara itu, sebab di Indonesia yang sudah lebih dulu mengaspal adalah merek-merek Eropa dan Amerika Serikat.

"Secara tersirat kebijakan pemerintah mengimpor bus dari wilayah kekuasaan Uni Soviet saat itu memperlihatkan sikap politik Presiden Soekarno yang memang dekat dengan Blok Timur," kata sejarawan JJ Rizal ketika dihubungi.

Ukuran bus itu tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan buatan Dodge dari AS. Setirnya pun ada di kiri sesuai standar lalu lintas di negara pembuatnya. Dia dibekali mesin berpendingin udara dengan daya 70 tenaga kuda.
Metromini dan Jalan Panjang Bus Sedang di Ibu Kota (opening)

Setelah Asian Games dan GANEFO, pemerintah menitipkan bus-bus itu kepada Gubernur DKI Jakarta, Henk Ngantung untuk pengelolaannya. Saat itu bus dicat merah. Sebagian dibiarkan polos, ada pula yang ditulis operator bus, TAVIP.

TAVIP adalah singkatan dari 'Tahun Vivere Pericoloso' (tahun menyerempet bahaya). Itu adalah judul pidato kenegaraan Soekarno pada 17 Agustus 1964, setahun sebelum peristiwa Gerakan 30 September. Pengelola diperkirakan terinspirasi dengan semangat itu.

Bus-bus Robur dan Ikarus lantas diberdayakan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan trem yang dihapus Bung Karno dengan alasan ketinggalan zaman dan menambah kepadatan lalu lintas.

Pemprov DKI kemudian meneruskan pengelolaan bus-bus Robur dan Ikarus ke sejumlah perusahaan otobus. Salah satunya Arion. Belakangan, Arion dan tujuh perusahaan bus lainnya diambil alih oleh pemerintah.
PO lainnya sudah mengelola armada sendiri dengan bus-bus dari Amerika Serikat seperti Dodge. Namun, performa Robur dan Ikarus dianggap bersaing meski ukurannya lebih kecil. Mesinnya bisa dibilang irit walau kapasitasnya lebih rendah.

Sayang kaca bus itu didesain permanen, sehingga banyak penumpang bus kegerahan. Satu-satunya sirkulasi adalah lubang hawa di atap bus yang bisa dibuka tutup. Maklum di negara asal suhunya dingin dan pembuatnya kemungkinan merasa tidak perlu merancang jendela bus untuk dibuka tutup.

Pengoperasian bus-bus itu mulanya hanya di sekitar tengah kota dengan terminal Taman Fatahillah sebagai pusatnya. Sebab di sanalah seluruh trem singgah.

Kemudian trayek diperluas, dengan menjadikan Lapangan Banteng sebagai terminal utama. Bus itu melayani jurusan Grogol, Semanggi, Harmoni, Rawamangun, hingga Salemba.

Kemudian mereka mulai merangsek ke daerah pinggiran Jakarta. Seperti Cililitan, Jatinegara, dan Kebayoran Baru (Blok M).

Peristiwa 30 September 1965 mengubah segalanya. Indonesia yang semula dinilai dekat dengan Blok Timur, kini beralih ke Blok Barat.

Hal ini ditengarai yang jadi penyebab suku cadang bus dari negara Blok Timur terganggu pasokannya. Meski Robur dan Ikarus masih beroperasi, lambat laun jumlahnya semakin menurun. 

Jepang sebagai kekuatan industri yang sedang naik daun di Asia saat itu mencoba merangsek masuk ke Indonesia dan berhasil. Mereka juga getol menawarkan moda transportasi, termasuk bus-bus dengan harga miring. Tak perlu lama-lama, pada 1970-an bus-bus asal Negeri Sakura seperti Hino dan Toyota, disusul Mitsubishi perlahan mulai mengaspal di tanah air.

Bus merek Jepang inilah yang saat ini masih dipakai armada Metromini. Waktu terus berjalan, armada Metromini dengan merek Jepang yang dulu bus baru, kini sudah uzur dan kurang perawatan. Bukan karena pasokan suku cadang terganggu, namun karena ketidakmampuan pengelola membelinya karena bisnis yang kurang sehat.

Jika dulu Robur dan Ikarus yang terlindas roda zaman, kini sepertinya giliran Metromini yang harus merasakannya.



























sumber : indonews.com

Related

Indonesia 1904932079649385488

Post a Comment

item