Rupiah 'Naik Daun' Tembus Rp14.439 per Dolar AS

Rupiah 'Naik Daun' Tembus Rp14.439 per Dolar AS

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali   Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.439 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu sore (19/12). Posisi ini menguat 62 poin atau 0,43 persen dari Selasa sore (18/12) di Rp14.501 per dolar AS.

Pada perdagangan tengah hari tadi, sebetulnya rupiah sempat unjuk gigi di level Rp14.390 per dolar AS. Sayang, penguatan ini berlangsung instan. 

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.380 per dolar AS atau menguat 
dibanding kemarin di Rp14.523 per dolar AS. 
Penguatan rupiah menjadi tertinggi kedua di antara mata uang Asia setelah won Korea Selatan yang menguat 0,58 persen. Selanjutnya, rupee India menguat 0,24 persen, yen Jepang 0,14 persen, dolar Singapura 0,09 persen, dan baht Thailand 0,07 persen. 

Namun, beberapa mata uang lainnya justru terperosok ke zona merah. Ringgit Malaysia melemah 0,13 persen, dolar Hong Kong minus 0,07 peren, peso Filipina minus 0,04 persen, dan renminbi China minus 0,01 persen. 

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas menguat dari dolar AS. Hanya dolar Kanada yang melemah 0,09 persen. Sedangkan euro Eropa menguat 0,36 persen, rubel Rusia 0,35 persen, dolar Australia 0,19 persen, poundsterling Inggris 0,08 persen, dan franc Swiss 0,07 persen. 
Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan penguatan rupiah hari ini ditopang oleh ekspektasi pasar yang pesimis terhadap prospek dolar AS ke depan. 

Sebab, pasar turut berekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve akan tetap menaikkan bunga acuannya pada bulan ini. Namun, keagresifan normalisasi kebijakan moneter The Fed tahun depan bakal berkurang. 

Lebih lanjut, ekspektasi The Fed yang tidak agresif diperkirakan bisa membuat aliran modal (capital flow) ke Negeri Paman Sam tidak sederas tahun ini. Dengan begitu, ada prospek dolar AS sedikit melemah pada tahun depan. 
"Tapi ekspektasi ini belum berdampak terlalu besar karena penguatan rupiah yang sebelumnya sempat menyentuh Rp14.300 per dolar AS justru kembali ke Rp14.400 per dolar AS," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/12). 

Dari sisi domestik, Dini bilang, rupiah sejatinya tidak mendapat potensi penguatan dari sentimen dalam negeri. Sebab, pasar masih wait and see menanti pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.




















sumber : liputan6.com

Related

Berita Ekonomi 4432549575347848402

Post a Comment

item