AS Pertimbangkan Ulur Waktu Tambah Bea Masuk China

AS Pertimbangkan Ulur Waktu Tambah Bea Masuk China

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali   Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mempertimbangkan untuk mengundurkan tenggat waktu kenaikan tarif dagang dengan China jika perundingan kedua negara mencapai kesepakatan. Sebelumnya, Trump menyebut akan menaikkan lagi tarif bagi produk China mulai 1 Maret mendatang.

"Jika kami mencapai kesepakatan, dimana kami pikir kami bisa membuat perjanjian sebenanrnya [...] saya bisa mengundurkan (tenggat waktu) sesaat," jelas Trump kepada reporter di Gedung Putih usai pertemuan kabinet, Selasa (12/2), seperti dikutip AFP.

"Tapi sesungguhnya, saya tidak tertarik untuk melakukannya," tambahnya. 
Selain itu, Trump juga berharap dilakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping untuk menetapkan perjanjian tersebut. Namun, hingga saat ini belum ada tanggal yang disepakati untuk dilakukan pertemuan tersebut.

Selama perundingan, AS dan China melakukan penghentian perang dagang sementara selama 90 hari. Pertemuan itu akan membahas soal pengenaan tarif. 

Sebelumnya telah terjadi tiga babak perjanjian perdagangan di Beijing untuk mencegah pemberlakuan kenaikan tarif impor ke AS dari China. Tarif impor rencananya naik lebih dari dua kali lipat, dari 10 persen menjadi 25 persen jika perjanjian tidak disepakati per 1 Maret mendatang. Total impor China ke AS mencapai US$200 miliar per tahun. 

"China sangat menginginkan perjanjian ini," terangnya, "dan semua akan berjalan baik dalam pembicaraan ini," seperti dikutip Reuters. 
Perselisihan AS-China mengakibatkan naiknya kekhawatiran masalah ekonomi kedua negara akan meluas secara global. Tahun lalu, Trump mengeluarkan sanksi terhadap China sebesar 25 persen terhadap barang dan tambahan bea masuk 10 persen. 

Ekonomi China sendiri telah menunjukkan perlambatan. Sementara perang dagang ini telah mengguncang kepercayaan bisnis di AS. Sebab, pengenaan tarif balasan di China telah menaikkan harga barang ekspor dan mematahkan pasar ekspor utama pebisnis di AS. 

Strategi agresif Trump ini juga nyatanya gagal mengurangi defisit impor AS terhadap China. Padahal itu adalah tujuan utama dari perang dagang ini. Trump juga berulang kali menekankan pernyataan yang kurang tepat. Menurutnya, China-lah yang membayar kenaikan tarif tersebut. Padahal faktanya, perusahaan-perusahaan impor AS yang menanggung kenaikan biaya itu. 

Para ekonom menyebut keinginan mengurangi impor ini diikuti oleh devaluasi mata uang China. Sehingga, membuat barang-barang itu lebih murah lagi bagi importir. 






















sumber : CNNIndonesia.com

Related

Dunia 3215568942570389212

Post a Comment

emo-but-icon

item