Ali Muharam, Bos Makaroni Ngehe, Berbagi Tips untuk Membuka Bisnis


Ali Muharam, pendiri camilan unik Makaroni Ngehe di Meruya, Jakarta.

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Membangun bisnis hingga menggurita diberbagai kota besar di Indonesia menjadi sebuah prestasi yang membanggakan. Ali Muharam, pemuda 31 tahun asal Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi sosok penting dibalik camilan yang tengah digemari generasi milenial yakni Makaroni Ngehe.
Ali mengungkapkan ada beberapa tips untuk generasi muda yang ingin mengembangkan ide usahanya. 

Menurut Ali, memulai usaha dan merintis dari titik awal menjadi momen yang sangat berharga, terlebih jika bisa dilakukan dalam usia yang relatif muda.

Dengan usia muda, lanjut Ali, bisa mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang lebih banyak dari kegagalan-kegagalan ketimbang memulai bisnis ketika sudah tua.
Namun, dalam memulai bisnis saat usia muda bukan asal sembarang dan terkesan asal-asalan membuka usaha, tetapi juga diperlukan kemauan, tekad, dan keseriusan dalam memulainya.

"Pesan saya lakukan semuda mungkin ketika kita akan menjalankan bisnis, kenali bisnis yang akan kita jalankan dan bukan hanya sekedar melihat tren seperti orang lain bisnis franchise ini nih, ah saya juga mau coba, jangan," ujar Ali saat berbincang dengan Kompas.com di kantor Makaroni Ngehe Meruya, Jakarta Barat, Rabu (23/8/2017).
Ali melanjutkan, dalam menjalankan bisnis, hal terpenting adalah memehami secara gamblang seperti apa produk atau bisnis apa yang mau dijalankan bukan hanya sekedar melihat tren yang sedang berkembang.

"Harus benar-benar memahami apa yang kita jual karakter produk yang akan kita jual. Seperti apa dan bagaimana memperlakukan produk tersebut karena ketika seseorang sudah menemukan amunisi untuk membuat usaha pasti akan memikirkan segala sesuatunya dari A sampai Z bukan hanya karena pengen buka usaha atau coba-coba," ungkapnya.

Kemudian, tahapan selanjutnya adalah memahami segala risiko-risiko bisnis yang akan dijalankan, dengan begitu akan mendapatkan ide atau cara jika bisnis tersebut mengalami kegagalan.

"Semakin muda memulai usaha semakin besar peluang kegagalan yang kita terima, tetapi semakin besar kegagalan yang kita terima semakin awal kita belajar dari kegagalan tersebut," papar Ali.

Ali menegaskan, dalam menjalankan bisnis biasa akan mendapatkan banyak keraguan dari berbagai pihak maupun diri sendiri, ditambah dengan gengsi diri sendiri.
Menurutnya hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha untuk membuktikan bagimana menjawab segala keraguan dengan kesuksesan usaha yang dijalani.
"Meskipun pada akhirnya usaha gagal dan itu akan memberikan pelajaran lebih baik merintis usaha, terus jangan gengsi," jelasnya.

Selain itu, menurut Ali, menjadi pelaku usaha juga harus memiliki pola pikir yang benar dan tidak langsung ingin menjadi pimpinan atau bos dalam usaha tersebut.
Seperti anak tangga, menjalankan bisnis juga harus melawati berbagai tahap demi tahap yang harus dilalui dan dijadikan pengalaman yang sangat berharga.
"Dan jngan mempunyai pikiran ketika kita membuka usaha, kita akan menjadi bos, jangan itu pola pikir yang benar-benar keliru, jika kita memulai usaha tempatkan diri kita dari posisi paling bawah," pesan Ali.

Ali berpandangan bahwa, bisnis yang dijalankan dari nol dan dihasilkan dari keringat sendiri akan memberikan hasil yang berbeda jika dibandingkan dengan membuka usaha hanya sebatas memberikan modal tanpa menjalankan usaha tersebut.
"Lakukan semuanya sendiri jangan mendelegasikan orang lain, buka usaha sendiri dan menyuruh orang lain itu 99 persen tidak jalan, dan nikmatnya juga beda, ketika sebuah usaha dijalankan oleh kita langsung dibanding dengan menyuruh orang itu pasti akan kelihatan karena kita lakukan dengan hati tetapi kalau orang lain yang mengerjakan untuk gaji atau uang," pungkas Ali.

(Kompas.com)

Related

Berita Ekonomi 6764871223926945714

Post a Comment

item