Puluhan Ayam Aduan Mati, Diduga Kena Snot


www.nusabali.com-puluhan-ayam-aduan-mati-diduga-kena-snot

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Sebanyak 15 ekor ayam black bonanza dan Lanzi berumur 6 bulan mati. Ciri-ciri penyakit, ayam ngorok dan mengeluarkan kotoran warna hijau.

Puluhan ayam petarung/ayam aduan milik Ida Bagus Nyoman Adnyana, warga Lingkungan Banjar Sidembunut, Kelurahan Cempaga, Kecamatan/Kabupaten Bangli, mati diduga terserang penyakit snot. Kondisi ini sudah berlangsung beberapa pekan terakhir. Pihaknya sudah berupaya melakukan penanganan dengan pemberian obat hingga penyemprotan, namun ayam banyak yang mati. 

Gus Adnyana mengatakan, penyakit snot yang menyerang ayam peliharaannya dengan ciri-ciri awal, mata ayam bengkak, mengorok, dan mengeluarkan kotoran berwarna hijau. 

“Kalau sudah sampai mengeluarkan kotoran warna hijau, selang dua hari kemudian ayam pasti mati,” ujarnya saat ditemui di kandang ayam di Lingkungan Banjar Sidembunut, Kelurahan Cempaga, Kecamatan Bangli, Minggu (3/9).

Akibat serangan penyakit snot, 15 ekor ayam jenis black bonanza dan Lanzi berumur enam bulan mati, serta sebanyak 50 ekor anak ayam petarung usia  2 minggu juga mati. Bahkan ayam pejantan yang dibelinya dengan harga jutaan rupiah mati karena penyakit snot. Disinggung soal harga ayam, Gus Adnyana mengatakan untuk harga ayam umur enam bulan laku terjual kisaran Rp 500 ribu – Rp 700 ribu per ekor. Begitu pula untuk ayam usia 2 bulan biasanya laku terjual Rp 100 ribu – Rp 150 ribu per ekor. 

Lanjutnya, untuk upaya pencegahan, telah dilakukan spraying (penyemprotan) dengan cairan desinfektan pada kandang dan memberikan obat cipro tylosin pada ayam. 

“Meski telah disemprot dan diberi obat  sampai sekarang ada saja ayam yang mati. Karena obat anti snot yang diberikan tidak mempan, saya coba berikan obat yang biasa digunakan untuk penanganan flu pada manusia,” ungkapnya. 

Pihaknya berharap petugas kesehatan hewan turun untuk melakukan penangan kasus ini. “Kami berharap ada petugas turun, supaya jelas apa penyebab kematian ayam dan penanganan agar wabah ini tidak menyebar luas,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah Kabid Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Bangli Sri Rahayu, menjelaskan ciri-ciri ayam yang terserang snot yakni ayam akan ngorok dan biasanya kotoran berwarna hijau. Ini disebakan oleh bakteri. “Kami belum bisa memastikan apa penyebab kematianya, perlu dilakukan penelitian,” ucapnya. 

Upaya pencegahan yang harus dilakukan yakni menjaga kebersihan kandang, rutin dilakukan spraying pada kandang. Saat penyemprotan kandang dalam keadaan kosong serta pencegahan bisa dilakukan dengan  pemberian vaksin pada ayam. Disampaikan pula penyakit ini tergolong mudah menyebar luas, artinya jika terkena kontak, ayam lainnya akan terkontaminasi snot. 

Disinggung untuk penangan persoalan Ida Bagus Nyoman Adnyana, pihaknya akan segera turun, untuk memastikan kondisi di lapangan. “Kami akan serega melakukan pengecekan, untuk penanganan lebih lanjut,” jelasnya. 

Untuk diketahui, snot adalah istilah dalam bahasa Inggris jika diterjemahkan berarti ingus atau lendir dari hidung yang biasa menyerang unggas khususnya ayam aduan. Pilek/snot pada ayam umumnya muncul di musim penghujan atau disebabkan oleh kondisi lingkungan kandang yang dingin dan lembab.

Penyakit snot adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Haemophillus Gallinarum. Bakteri ini sering menyerang anak ayam akibat adanya perubahan musim yang tajam dan berubah-rubah yang akan mempengaruhi kesehatan dan ketahanan pada anak ayam.

(NusaBali)

Related

Seputar Bali 2101971747945203442

Post a Comment

item