Jajanan Tradisional di Korea, Ikan dari Indonesia

Jajanan Tradisional di Korea, Ikan dari Indonesia

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Siapapun yang singgah di Korea Selatan, pasti mengenal odeng. Penganan berbahan ikan yang ditusuk layaknya sate dan disajikan menggunakan kaldu kuah panas ini dapat ditemukan baik di toko-toko makanan, kedai pinggir jalan, hingga restoran berbintang. Namun siapa sangka bahwa odeng yang disajikan kemungkinan dibuat dari ikan hasil laut Nusantara, kekayaan laut Indonesia.

Aneka produk perikanan dan olahan ikan Indonesia kini mulai dikenal di Korea Selatan. Indonesia terus membidik pasar perikanan Korsel yang memiliki potensi cukup besar dan diproyeksikan terus berkembang. Apalagi tren masyarakat Korea Selatan yang gemar mengkonsumsi produk perikanan secara fresh cooking dengan direbus, digoreng, dikukus maupun dihidangkan mentah ala sushi dan sashimi.

Hal itu pulalah yang disasar Indonesia lewat ajang "Seoul International Seafood Show 2018" di Convention and Exhibition Center (COEX), Seoul, Korea Selatan yang berlangsung pada 9-11 Mei 2018. 

Menempati area seluas 63 meter persegi, Paviliun Indonesia menjajakan berbagai produk perikanan seperti Cattle Fish, udang, gurita dan berbagai olahan hasil laut lainnya.
Pelaku usaha ikan segar Korsel menyambut baik keikutsertaan Indonesia kali ini. Pada pelaksanaan hari pertama saja, Pavilion Indonesia berhasil meneken nota kesepahaman (MoU) transaksi pembelian senilai US$ 1,12 juta atau sekitar Rp15.5 miliar. Ikan yang berhasil terjual antara lain berbagai ikan beku Frozen Muroaji, Frozen Ribbon Fish, Frozen Pacific Mackarel dan beberapa jenis produk olahan ikan lainnya. 

Transaksi tersebut diyakini akan bertambah karena masih ada potensi prospektif dari hasil bisnis matching yang dilakukan. Menurut rilis Kedutaan Besar RI di Seoul yang diterima CNNIndonesia.com, dari hasil pandangan mata, masih banyak pelaku usaha ikan Korsel yang menunjukkan minatnya terhadap produk ikan Indonesia yang sangat beragam serta dikemas dengan teknik kemasan yang baik.

Hal ini sejalan dengan apa yang telah diantisipasi KBRI Seoul sebagai koordinator Paviliun Indonesia. "Pemanfaatan teknologi pengolahan produk hasil perikanan termasuk teknik proses produksi hingga teknik kemasan dapat menghasilkan produk olahan ikan yang bervariasi dan berdaya saing tinggi. Hal ini tentunya akan meningkatkan nilai tambah dari produk ikan Indonesia yang dijual", tutur Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi yang turut menjadi saksi penandatanganan MoU.

Mantan Konjen RI untuk Los Angeles itu menyatakan keikutsertaan Indonesia pada pameran diharapkan membuat para pelaku usaha memahami kondisi pasar dan selera konsumen di Korea Selatan. "Hal ini sangat penting dalam meningkatkan kualitas produk hasil kelautan Indonesia," kata Dubes Umar.
Rata-rata masyarakat Korea Selatan mengkonsumsi ikan atau produk perikanan lebih dari 54 kilogram per orang per tahun. Kebutuhan konsumen diyakini akan terus bertambah walaupun harus diperoleh dengan harga tinggi. Masyarakat Korsel selama ini tak segan membayar mahal untuk ikan segar yang dibekukan dengan teknik pembekuan mutakhir dan kemasan menarik.

Dalam perdagangan produk perikanan dunia, Korsel menempati peringkat ke-8 negara pengimpor produk perikanan, dan peringkat ke-3 terbesar di kawasan Asia setelah Jepang dan Tiongkok. Pada 2017 impor ikan Korsel mencapai US$ 4,33 miliar dengan tren perkembangan sebesar 7,94 persen selama 3 tahun terakhir.

Indonesia selama ini baru menempati urutan ke-15 sebagai pemasok ikan di Korsel, di bawah Vietnam dan Thailand. Namun, potensi peningkatan volume ekspor ikan Indonesia ke Korsel semakin terbuka lebar. Hal ini seiring dengan semakin besarnya permintaan produk perikanan dari Indonesia setiap tahunnya. 

























sumber : CNNIndonesia.com

Related

Dunia 4250733766703141921

Post a Comment

item