Santap Bersama Keluarga dan Nikmat Mi Instan di Pengungsian

Santap Bersama Keluarga dan Nikmat Mi Instan di Pengungsian

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali   Kamis (4/10) siang yang terik di sebuah tenda pengungsian, di lapangan Valutemo, Palu, Sulawesi Tengah, Dicki dan keluarganya baru saja tuntas menyantap makan siang dengan menu nasi putih dengan mie rebus.

Mau tak mau, menu seperti itulah yang harus dinikmati oleh Dicki dan keluarga dalam kesehariannya. Sebab, tak banyak pilihan bahan makanan yang bisa diolah.

"Adanya mie instan. Ya sudah makan itu saja," kata Dicki, Kamis (4/10).
Ia dan keluarganya merupakan salah satu korban peristiwa gempa dan tsunami di Palu.

Namun, Dicki mengaku tetap menikmati hidangan itu. Pasalnya, makanan tersebut dinikmati bersama keluarganya. Terlebih, tak ada anggota keluarganya yang menjadi korban gempa maupun tsunami.

"Makanan sederhana tapi bisa (makan) sama keluarga jadi tetap nikmat," ujarnya.
Hari keenam pascaperistiwa tersebut, Dicki mengaku sudah mulai terbiasa tinggal di tempat pengungsian beserta menu sekadarnya itu.

Dicki pun mengaku bersyukur dengan keadaan yang ia alami saat ini selama di posko pengungsian. Sebab, kata Dicki, di hari-hari pertama ia mengungsi kebutuhan makan maupun minum cukup sulit.

Namun, saat ini, kebutuhan tersebut sudah bisa dipenuhi berkat bantuan logistik yang diberikan berbagai pihak.
"Ya walaupun bantuannya cuma beras dan makanan instan, setidaknya kami tidak kelaparan, bersyukur lah, mbak," tuturnya.

Ia mengaku ingin kembali tinggal di rumah sendiri dan makan bersama keluarga besar dengan menu yang lebih baik.

Lebih dari itu, Dicki berharap kehidupan di kota Palu bisa segera pulih seperti semula, termasuk soal roda ekonomi masyarakat kota Palu.
"Semoga cepat kembali normal, pasar buka, toko buka, jadi kalau cari kebutuhan mudah," kata Dicki.

Mi instan merupakan solusi pangan bagi mereka yang berada dalam kondisi darurat seperti korban bencana alam. Kendati demikian konsumsi mi instan dalam waktu lama dikhawatirkan menimbulkan masalah baru.

Pakar gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Ari Fachrial Syam sulit menampik sifat praktis mi instan yang cocok dalam penanggulangan bencana. Mudah disimpan dan mudah dimasak menurut Ari menjadi penyebab mi instan selalu jadi pilihan pertama untuk membantu korban bencana.

"Pertama soal kepraktisan itu, mi instan ini bisa disimpan di ruang terbuka dengan suhu kamar, juga praktis memasaknya cukup dengan air panas," ucap Ari melalui telepon kepada CNNIndonesia.com, Minggu (30/9).

Dalam kondisi bencana yang kerap berimbas pada putusnya jalur pasokan pangan menempatkan mi instan sebagai pilihan pertama bagi para korban maupun para pemberi bantuan. Ditambah harganya yang relatif terjangkau, sifat praktis dari mi instan tersebut sulit disaingi.
Namun dalam aspek nilai gizi, Ari menjelaskan bahwa mi instan tidak mencukupi kebutuhan gizi seseorang. Dominan dengan kandungan karbohidrat saja, Ari khawatir konsumsi mi instan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan masalah kesehatan baru.

Padahal idealnya, manusia setiap hari membutuhkan makro nutrien yang seimbang, tidak hanya karbohidrat, tapi juga protein, dan lemak. Beberapa orang yang memiliki riwayat gangguan kesehatan dianjurkan lebih berhati-hati dalam konsumsi mi instan ini.

"Seumpama yang sakit hipertensi itu sebaiknya pakai bumbu setengahnya saja, begitu pula dengan mereka yang menderita penyakit lambung," imbuh Ari.

































sumber : CNNIndonesia.com

Related

Indonesia 4063100452251424665

Post a Comment

item